SejagatNews.com (Rohul) Ujungbatu — Di tengah teriknya cuaca dan mahalnya biaya perawatan, semangat Ladong Lubis petani penyadap karet di Desa Pematang Tebih Lintam, lokasi Cempedak Mati, tak pernah padam.
Bagi Ladong Lubis dan kawan-kawan, naik turun harga karet sudah jadi makanan sehari-hari. Dan pada Sabtu (18/7/2026), harga tender karet di wilayahnya tercatat Rp20.390 per kilogram.
“Harga sekarang sudah lumayan. Yang penting kita tetap bekerja. Naik turun harga karet itu sudah biasa, jangan patah semangat,” ujar Ladong dengan logat khasnya.
Harga Rp20.390/kg memang cukup baik dibanding beberapa waktu lalu. Namun para petani masih berharap bisa kembali menyentuh harga tertinggi Rp22.000/kg seperti beberapa bulan lalu.
Alasannya sederhana. Biaya perawatan kebun karet terus naik. “Sekarang harga pupuk sudah Rp16.000 per kilogram. Kalau harga karet tidak naik, berat juga kami,” kata Ladong Lubis.
Ladong Lubis menjelaskan, getah karet yang disadap tidak langsung dijual. Harus melalui proses pencukaan dulu agar getahnya lebih kental dan kualitasnya bagus saat masuk ke tempat tender.
Proses panjang inilah yang membuat petani berharap ada kestabilan harga. “Kami berharap tren harga terus membaik. Biar bisa nutup biaya pupuk dan kebutuhan keluarga,” harapnya.
Kisah Ladong Lubis mewakili ribuan petani karet di Rokan Hulu. Tetap bekerja, tetap semangat, meski harga kadang naik turun. Karena dari tetesan getah karet itulah nafkah keluarga bergantung.*(Diki Andi)
Sumber: amanatrakyat.com
