MasyaAllah Tabarakallah, Kisah Haru Hasan Basri Ritonga Yang Tak Pernah Menyerah,! Ketika Kesabaran Dan Doa Mengubah Takdir, Air Mata Dulu, Senyum Kemudian

SejagatNews.com (Rohul) Ujungbatu — Hidup memang tak selalu sesuai harapan. Namun bagi Hasan Basri Ritonga, setiap ujian adalah jalan untuk naik kelas. Dari duka kehilangan 2 buah hati, hidup dengan 1 kaleng beras di tanah rantau, hingga kini berdiri sebagai seorang wartawan. Itulah potret nyata perjuangan seorang ayah.

Pria kelahiran 1985 ini menikah dengan Rosdianti Rambe pada 2017 di Desa Turunan, Sipirok Hole, Tapanuli Selatan. Rumah tangga mereka diawali dengan harapan besar.

Setahun kemudian lahir putri pertama, Rini Sofyanti. Namun kebahagiaan itu tak lama. Saat Rini berusia 1,5 tahun, ia dipanggil Allah SWT.
Belum selesai luka itu, Allah SWT kembali menitipkan Rizki Alamsyah Tapi lagi-lagi, saat usia 1 tahun Rizki juga berpulang.

“Kehilangan dua anak berturut-turut itu rasanya seperti dunia runtuh. Tapi kami tidak boleh menyerah,” kenang Hasan dengan mata berkaca.

Titik balik dimulai. Dengan tekad bulat, Hasan dan istri merantau ke Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu. Modal mereka.? Hanya 1 kaleng beras dan sebuah periuk yang ditanam di dalamnya. Itu saja.

Di rantau, Hasan Basri Ritonga bekerja sebagai penjaga ladang. Gaji Rp1 juta dan jatah beras 20 kg per bulan. Berat, tapi halal.

“Yang penting bisa makan dan bisa terus berusaha,” ujar Hasan Basri Ritonga.

Allah SWT tak tidur. Setahun kemudian lahir Aisyah Ritonga, yang kini sudah kelas 8 MTsN. Dua tahun berselang lahir Muhammad Al Ausi, lalu disusul si bungsu Arsya Arafah Ritonga. Rumah yang dulu sepi, kini kembali ramai tawa anak-anak.

Sedikit demi sedikit, hasil keringat Hasan Basri Ritonga ditabung. Dari tabungan itulah ia akhirnya bisa membeli sebidang tanah. Kini tanah itu sudah jadi kebun kelapa sawit dan mulai menghasilkan.

Yang lebih luar biasa, Hasan Basri Ritonga tak berhenti belajar. Berawal dari rasa ingin tahu, ia menekuni dunia jurnalistik. Belajar menulis, memahami etika pers, dan terjun langsung ke lapangan.

Kini, Hasan Basri Ritonga dikenal sebagai wartawan yang aktif meliput di kabupaten Rokan Hulu. Baginya, pena adalah cara untuk menyuarakan kebenaran dan membantu sesama.

“Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengajarkan bahwa setiap kesedihan pasti akan disusul dengan harapan bagi hamba yang tidak pernah menyerah,” ucap Hasan Basri Ritonga penuh syukur.

Kisah Hasan Basri Ritonga adalah bukti, Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dari 1 kaleng beras hingga punya kebun. Dari duka terdalam hingga jadi penulis berita.

Semoga kisah ini menjadi pengingat. Seberat apapun ujian, selama ada sabar, doa, dan kerja keras… pasti ada jalan.*(Diki Andi)

Sumber: Wawancara SejagatNews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *